mungkin banyak orang bertanya, kenapa yang menguasai perekonomian di masyarakat kita adalah orang cina/ keturunan. padahal kita berada di negara sendiri dimana yang seharusnya memegang kendali perekonomian adalah orang-orang pribumi, malah kita menjadi pekerja dari orang luar. contoh gampang saja di mall-mall, kebanyakan orang yang punya toko itu orang cina, sedangkan pekerjanya adalah orang pribumi. meski ada juga yang pemiliknya orang pribumi, tp itu sangat jarang.

menurutku yang melatarbelakangi hal ini adalah kurang beraninya orang-orang pribumi untuk mengambil resiko lebih, ato bisa dibilang cenderung bermain save. mungkin ini salah satu yang menyebabkan perekonomian orang pribumi kalah jauh jika dibanding dengan orang cina. dan orang pribumi cenderung menerima, dalam artian jika sudah dapat untung dari usahanya, ya sudah. mereka jarang berniat untuk mengembangkannya. mungkin inisiatif akan hal itu ada, tp mereka menganggapnya itu sudahlah cukup.

mungkin satu hal yang bisa kita belajar dari orang cina adalah rasa kekeluargaan dalam membangun usaha. bukan berarti karena sesama keluarga bisa ngutang (berhutang). dalam keluarga itu harusnya saling mendukung. jika ada yang membangun usaha dibantu. cara membantunya mungkin bisa banyak cara. tp yang paling menarik adalah mereka membantu dengan ‘melariskan’ usaha keluarga mereka. misal ada keluarga yang menjual meubel. keluarga yang lain jika butuh meubel diprioritaskan membeli di toko keluarga mereka tadi. meski agak mahal tapi demi membangun usaha keluarga, it’s alright. jika kita melihat ada pembukaan suatu usaha iasanya banyak karangan bunga yang dikirim. mungkin kebanyakan orang akan merasa heran kok banyak karangan yang dikirim. tapi banyak yang bilang karangan itu dikirim oleh keluarga mereka sendiri. ini merupakan salah satu bentuk dukungan keluarga mereka.

mungkin jika masyarakat pribumi bisa menerapkan hal ini dalam pembangunan ekonomi, masyarkat pribumi akan bisa meningkatkan tarafhidup mereka. bukan malah membagun usaha yang sama jika ada keluarga yang membangun usaha tersebut. yang timbul nanti malah usaha saling menjatuhkan bukan untuk saling mendukug.